Ilustrasi penyadapan. Foto: Only_NewPhoto/ShuttertsockMabes Polri menggelar konferensi pers terkait penyadapan Presiden RI, oleh sejumlah petinggi Polri, salah satunya Listyo Sigit Prabowo. Dalam konferensi pers itu, Kadiv Humas Polri Irjen Johny Edison Isir menjelaskan penyadapan dilakukan dengan Lawful Interception Management System (LIMS). Apa itu LIMS? Apakah alat ini sama dengan Pegasus?"LIMS itu merupakan sistem, di dalamnya ada perangkat-perangkat. Itu digunakan oleh aparat penegak hukum di Indonesia untuk menyadap. Isinya bisa ada mikrofon yang ditempel, lalu ada transmiter, bisa juga ada Pegasus," kata Ardi Sutedja, Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Selasa (3/11). Ardi menjelaskan, Pegasus yang dikembangkan oleh perusahaan Israel NSO, tidak bisa berjalan sendiri. Ia bukan alat ampuh yang bisa menyadap apa saja. "Pegasus itu software, di dalamnya ya itu tadi ada perangkat-perangkat," ucapnya. Ardi menjelaskan, alat-alat itu saling bekerja sama. Tergantung kebutuhan di lapangan. Ardi Sutedja, ketua dan pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF). Foto: Aulia Rahman/kumparanMengenai penyadapan ini, Ardi juga menyinggung peristiwa yang sama yang dialami presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada 2013 lalu. "Insiden ini menunjukkan kelemahan sistemik infrastruktur TIK nasional yang tak kunjung dibenahi lebih dari satu dekade. Birokrasi dinilai masih bermental "pemadam kebakaran" yang reaktif, padahal spionase modern bertumpu pada serangan Advanced Persistent Threat (APT) dan penyusupan rantai pasok teknologi pemerintah. Hukum yang ada, termasuk UU ITE, dinilai tumpul menghadapi operasi intelijen asimetris dan manipulasi informasi lintas batas," tutup Ardi.
(Penulis Jurnalis: kumparanNEWS | Diterbitkan via kumparan.com)
