Ilustrasi Astra. Foto: Dok. IstimewaAstra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp 24,6 triliun (turun 12 persen jika memperhitungkan non-recurring items). Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat.Dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, kinerja pada kuartal ketiga membaik, terutama ditunjang oleh peningkatan volume kontrak pertambangan, dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe, serta bisnis Otomotif yang tetap bertumbuh. Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat.Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp 10,0 triliun. Selain program share buyback Astra sebesar Rp 8,0 triliun yang masih berlangsung, United Tractors dan Astra Agro Lestari juga mengumumkan program share buyback yang baru pada Oktober 2026. Inisiatif alokasi modal Grup juga mencakup penawaran tender sukarela oleh Astra untuk menambah kepemilikan sahamnya di Astra Otoparts.Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif. Astra akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan," ujar Presiden Direktur Astra Rudy.Kinerja Keuangan Grup Astra(Untuk periode yang berakhir 30 September)Pendapatan Bersih:2026: Rp 243.869 miliar2025: Rp 243.608 miliarPerubahan: 0%Laba Bersih Tidak Termasuk Non-Recurring Items*:2026: Rp 24.565 miliar2025: Rp 24.717 miliarPerubahan: (1)%Non-Recurring Items:2026: (Rp 2.963 miliar)2025: (Rp 244 miliar)Perubahan: N/ALaba Bersih:2026: Rp 21.602 miliar2025: Rp 24.473 miliarPerubahan: (12)%Laba Bersih Per Saham Tidak Termasuk Non-Recurring Items*:2026: Rp 6162025: Rp 611Perubahan: 1%Laba Bersih Per Saham:2026: Rp 5412025: Rp 605Perubahan: (11)%POSISI KEUANGAN(Per 30 September 2026 vs 31 Desember 2025)Ekuitas yang Diatribusikan Kepada Pemilik Entitas Induk:30 September 2026: Rp 238.103 miliar31 Desember 2025: Rp 228.906 miliarPerubahan: 4%Nilai Aset Bersih Per Saham:30 September 2026: Rp 5.99931 Desember 2025: Rp 5.692Perubahan: 5%*Non-recurring items, terutama terdiri atas penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitasCatatan:Grup menggunakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai laba bersihLaba per saham dihitung berdasarkan laba bersih dan rata-rata tertimbang jumlah saham beredar, yang dipengaruhi oleh share buybackKinerja keuangan selama sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2026 dan 2025 serta posisi keuangan per 30 September 2026 tidak diaudit dan telah disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.Laporan Presiden DirekturKinerjaPendapatan bersih konsolidasian Grup pada sembilan bulan pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp 243,9 triliun, stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih, tidak termasuk non-recurring items, juga stabil sebesar Rp 24,6 triliun. Kinerja Grup secara keseluruhan hingga saat ini tetap resilien, ditopang oleh perbaikan kinerja di seluruh lini bisnis pada kuartal ketiga yang mengimbangi pelemahan pada semester pertama tahun ini. Bisnis Otomotif, Jasa Keuangan, dan Wider Businesses terus mencatat pertumbuhan yang sehat, sementara kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengalami penurunan.Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp3,0 triliun, yang terutama terdiri atas penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih Grup tercatat sebesar Rp21,6 triliun, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Nilai aset bersih per saham pada 30 September 2026 naik sebesar 5% menjadi Rp 5.999.Kas bersih pada 30 September 2026, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp 1,8 triliun, dibandingkan dengan Rp 7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam dan share buyback. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp 66,7 triliun pada 30 September 2026, meningkat dibandingkan Rp 64,9 triliun pada 31 Desember 2025.Kegiatan BisnisLaba Bersih Berdasarkan Bisnis(Untuk periode yang berakhir 30 September)Otomotif:2026: Rp 9.787 miliar2025: Rp 9.033 miliarPerubahan: 8%Jasa Keuangan:2026: Rp 7.152 miliar2025: Rp 6.731 miliarPerubahan: 6%Solusi Pertambangan & Alat Berat:2026: Rp 5.068 miliar2025: Rp 7.079 miliarPerubahan: (28)%Lain-lain:2026: Rp 2.558 miliar2025: Rp 1.874 miliarPerubahan: 36%Total Laba Bersih Tidak Termasuk Non-Recurring Items*:2026: Rp 24.565 miliar2025: Rp 24.717 miliarPerubahan: (1)%Non-Recurring Items*:2026: (Rp2.963 miliar)2025: (Rp244 miliar)Perubahan: N/ATotal Laba Bersih:2026: Rp 21.602 miliar2025: Rp 24.473 miliarPerubahan: (12)%*Non-recurring items, terutama terdiri atas penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitasCatatan:Grup menggunakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai laba bersihInvestasi di bidang layanan kesehatan dan non-otomotif lainnya, serta penyesuaian nilai wajar yang sebelumnya disajikan dalam divisi Otomotif, telah direklasifikasi dari Otomotif ke Lain-lain.RINCIAN PER DIVISIOtomotifLaba bersih bisnis Otomotif Grup meningkat sebesar 8% menjadi Rp9,8 triliun, mencerminkan peningkatan volume penjualan serta kontribusi yang kuat dari divisi Komponen.Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 4% menjadi 5,0 juta unit pada sembilan bulan pertama tahun 2026. Penjualan sepeda motor Honda juga meningkat sebesar 3%, dengan pangsa pasar yang tetap stabil sebesar 77%.Penjualan mobil secara nasional meningkat 21% menjadi 679.000 unit pada sembilan bulan pertama tahun 2026, sementara penjualan Astra meningkat sebesar 13%. Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar di Indonesia, dengan pangsa pasar Astra secara keseluruhan sebesar 49%.Kontribusi laba bersih divisi Komponen Grup meningkat sebesar 15% menjadi Rp1,4 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026, dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.Jasa KeuanganBisnis Jasa Keuangan Grup terus menunjukkan pertumbuhan, dengan laba bersih yang meningkat 6% menjadi Rp7,2 triliun.Divisi pembiayaan konsumen Grup mencatat peningkatan piutang pembiayaan bersih sebesar 6% menjadi Rp132,0 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026, dibandingkan dengan Desember 2025. Nilai pembiayaan baru meningkat 8% menjadi Rp92,5 triliun, didorong oleh pertumbuhan pembiayaan otomotif baru dan multi-cycle.Divisi pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor mencatat kontribusi laba bersih sebesar Rp3,6 triliun, meningkat 4% dibandingkan tahun lalu.Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 6% menjadi Rp1,9 triliun.Perusahaan-perusahaan asuransi Grup membukukan kontribusi laba bersih sebesar Rp1,4 triliun, naik 9% yang ditopang oleh peningkatan pendapatan operasional dan pendapatan investasi.Solusi Pertambangan & Alat BeratBisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat Grup membukukan laba bersih (tanpa memperhitungkan non-recurring items) sebesar Rp5,1 triliun, turun 28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya penjualan emas dari tambang emas Martabe yang sempat menghentikan produksinya pada awal tahun ini, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional (alokasi RKAB), yang mengakibatkan melemahnya permintaan alat berat dan jasa penambangan, serta penurunan volume pertambangan batu bara. Meskipun demikian, kinerja pada kuartal ketiga membaik, dengan mencatat pertumbuhan tahun ke tahun sebesar 15%.Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat membukukan non-recurring items sebesar Rp2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 59% menjadi Rp2,9 triliun.Divisi penyedia jasa penambangan mencatatkan pengupasan lapisan tanah yang lebih rendah 7% menjadi 766 juta bank cubic metres.Penjualan alat berat Komatsu turun 17% menjadi 3.000 unit, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan alat berat untuk sektor pertambangan akibat alokasi RKAB yang lebih rendah.Penjualan batu bara turun 23% menjadi 7,1 juta ton. Sementara itu, penjualan emas tercatat sebesar 54.000 oz, dibandingkan 178.000 oz pada periode yang sama tahun lalu, akibat penghentian sementara operasional tambang emas Martabe pada awal tahun. Tambang tersebut kembali beroperasi pada kuartal kedua.Lain-lainTotal laba bersih segmen Lain-lain, yang terutama mencerminkan Wider Businesses Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, mencapai Rp2,6 triliun. Laba bersih ini meningkat 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama didorong oleh peningkatan kinerja divisi agribisnis yang didukung oleh kenaikan harga dan peningkatan produktivitas, serta peningkatan kinerja divisi properti yang didukung oleh kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi.Segmen Lain-lain membukukan non-recurring items sebesar Rp766 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2026, terutama berasal dari kerugian nilai wajar atas investasi ekuitas. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih yang dilaporkan meningkat hanya 7% menjadi Rp1,8 triliun.AKSI KORPORASISelain program share buyback Astra sebesar Rp8,0 triliun yang masih berlangsung, United Tractors mengumumkan program share buyback hingga Rp2,0 triliun untuk periode Oktober hingga Desember 2026, sementara Astra Agro Lestari mengumumkan program share buyback hingga Rp400 miliar untuk periode Oktober hingga Desember 2026.Astra sedang melaksanakan penawaran tender sukarela atas maksimal 4,95% saham Astra Otoparts dengan harga Rp3.600 per saham, dengan nilai transaksi maksimal sekitar Rp858 miliar. Periode penawaran tender berlangsung dari 13 Oktober hingga 11 November 2026. Apabila seluruh saham yang menjadi objek penawaran tender sukarela berhasil diperoleh, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80% menjadi 84,95%.PROSPEKDi tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif. Astra akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan.
(Penulis Jurnalis: kumparanBISNIS | Diterbitkan via kumparan.com)
