Sains & Lingkungan

Harga Batu Bara Ngacir, Pasokan Seret dan Krisis Energi Mengintai

•
Harga Batu Bara Ngacir, Pasokan Seret dan Krisis Energi Mengintai - Infolitik
Harga batu bara ngacir pada perdagangan Selasa (13/10/2026), di tengah meningkatnya kebutuhan energi menjelang musim dingin dan ketatnya pasokan dari sejumlah negara produsen. K...

Harga batu bara ngacir pada perdagangan Selasa (13/10/2026), di tengah meningkatnya kebutuhan energi menjelang musim dingin dan ketatnya pasokan dari sejumlah negara produsen. Krisis energi akibat perang Iran turut mengubah prospek permintaan batu bara, meski tekanan transisi energi masih membayangi bahan bakar fosil tersebut.


Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 1,05 ke level US$ 150,4 per ton. Kontrak November 2026 melesat US$ 1,55 ke level US$ 153,1 per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 melejit US$ 1,6 menjadi US$ 154,35 per ton.


Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Oktober 2026 terkerek US$ 0,7 menjadi US$ 145,5 per ton. Kontrak November 2026 melonjak US$ 1,65 menjadi US$ 149,65 per ton, sementara kontrak Desember 2026 naik US$ 1,65 menjadi US$ 148,7 per ton.

Mengutip Bloomberg, harga batu bara termal Asia telah mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir karena pembangkit listrik meningkatkan persediaan untuk menghadapi musim dingin. Permintaan yang kuat terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan dari China hingga Indonesia.


Perang Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas membuat batu bara kembali menjadi alternatif bagi sejumlah negara Asia. Pembangkit listrik dan industri berupaya mengamankan pasokan energi, sehingga permintaan batu bara bertahan meski dunia terus berupaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan mengubah proyeksi konsumsi batu bara global pada 2026. Setelah sebelumnya memperkirakan konsumsi turun, IEA kini memprediksi permintaan meningkat 1,2% hingga mencapai rekor tertinggi.


Analis Morgan Stanley menilai, krisis energi di Timur Tengah membuat prospek permintaan batu bara termal dalam jangka panjang lebih tangguh. Bank tersebut menaikkan proyeksi jangka panjang harga ekspor batu bara Newcastle sebesar 4% menjadi US$ 125 per ton. Bloomberg melaporkan, kontrak berjangka Newcastle telah meningkat lebih dari 40% sepanjang 2026 dan ditutup pada Selasa di level tertinggi sejak Agustus 2024.

Kenaikan harga juga ditopang keterbatasan produksi di sejumlah negara pemasok utama. Di China, produksi batu bara di wilayah pertambangan utama merosot setelah kecelakaan maut pada Mei memicu serangkaian inspeksi keselamatan.

Produksi domestik China turun lebih dari 3% sepanjang Januari–Agustus 2026, sementara harga batu bara termal di negara tersebut mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.


Kendala Produksi Batu Bara

Analis Wood Mackenzie Hangyu Li mengatakan, sejumlah tambang diperkirakan secara bertahap memperoleh izin untuk kembali beroperasi setelah sekitar empat bulan dihentikan. Namun, pemulihan produksi dalam waktu dekat diperkirakan tidak berlangsung cepat.

Indonesia, sebagai eksportir batu bara terbesar dunia, juga menghadapi kendala kuota produksi pemerintah serta kekeringan yang mengganggu lalu lintas tongkang dari lokasi tambang ke pelabuhan. Menurut DBX Commodities, ekspor batu bara Indonesia pada September turun ke level terendah dalam lima tahun.

Di India, persediaan batu bara pembangkit listrik menipis setelah musim panas yang terik meningkatkan kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan. Lemahnya musim hujan juga menghambat pengisian waduk dan meningkatkan kebutuhan irigasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pembeli India lebih agresif mencari pasokan impor meski harga tinggi.


Ke depan, pergerakan harga batu bara akan sangat dipengaruhi kondisi cuaca di Asia. Bloomberg melaporkan, fenomena El Niño pada 2026 berpotensi memicu musim hujan yang lebih lemah dan suhu lebih hangat, sehingga prospek permintaan untuk pemanas pada musim dingin menjadi tidak pasti.

Sebagian besar wilayah China diperkirakan mengalami suhu musim dingin 0,5–1 derajat Celsius di atas normal. Di Jepang dan Korea Selatan, suhu diproyeksikan 1–2 derajat Celsius lebih tinggi, sedangkan sejumlah wilayah Asia Tenggara daratan, termasuk Vietnam dan Thailand utara, berpotensi mengalami suhu setidaknya 2 derajat Celsius di atas normal.


Jika musim dingin lebih hangat dari perkiraan, kebutuhan batu bara untuk pemanas dapat lebih rendah. Namun, keterbatasan pasokan, kebutuhan listrik, dan ketidakpastian energi global masih menjadi faktor yang berpotensi menjaga harga tetap tinggi.

Infolitik