Mayoritas Saham Melemah, IHSG Tertekan
Tekanan jual terlihat dari jumlah saham yang mengalami penurunan harga pada awal perdagangan Jumat.
Sebanyak 401 saham tercatat melemah, sementara 164 saham menguat dan 163 saham tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas perdagangan mencapai 6,7 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 223.878 kali. Sementara itu, nilai transaksi tercatat sekitar Rp1,3 triliun.
Pelemahan juga melanda sebagian besar sektor saham di BEI.
Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,43 persen, diikuti sektor transportasi yang terkoreksi 0,92 persen dan infrastruktur melemah 0,85 persen.
Sektor properti turun 0,63 persen, industri melemah 0,58 persen, sedangkan sektor barang konsumen nonprimer mengalami koreksi 0,62 persen.
Di tengah tekanan tersebut, sektor keuangan masih mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,07 persen. Sektor kesehatan juga bergerak di zona positif.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jual berlangsung cukup luas dan tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok saham.
Pergerakan Saham CUAN dan IATA
Sejumlah emiten mencatat pergerakan harga cukup mencolok ketika IHSG berbalik melemah.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 1,95 persen ke posisi Rp750 per saham. Pada awal perdagangan, saham CUAN sempat menyentuh level tertinggi Rp775 sebelum mengalami tekanan.
Sementara itu, saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) bergerak berlawanan arah dengan indeks.
Harga saham IATA tercatat menguat 3,96 persen ke posisi Rp104 per saham. Saham tersebut bergerak pada rentang Rp101 hingga Rp108 selama periode awal perdagangan.
Perbedaan arah pergerakan sejumlah emiten menggambarkan kondisi pasar yang masih selektif, ketika investor memilih saham tertentu meskipun indeks secara keseluruhan melemah.
Mengapa IHSG Hari Ini Melemah?
Pergerakan IHSG pada Jumat dipengaruhi berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari pasar global, investor mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 menunjukkan bahwa sejumlah pejabat The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, pelemahan bursa saham Wall Street dan berlanjutnya aktivitas penjualan investor asing turut menjadi perhatian pelaku pasar. CGS International Sekuritas Indonesia dalam riset perdagangan Jumat memperkirakan IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah.
Penurunan harga sejumlah komoditas logam, seperti timah, nikel, dan tembaga, dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi emiten terkait.
Namun, kenaikan harga komoditas lain, termasuk minyak mentah, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan emas, berpotensi memberikan dukungan terhadap sejumlah saham.
Dari dalam negeri, investor turut memperhatikan perkembangan indikator konsumsi masyarakat.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia tercatat turun dari 118,5 pada Agustus menjadi 118,1 pada September 2026.
Penurunan tersebut mencerminkan melemahnya penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, meskipun ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan masih menunjukkan perbaikan.
IHSG Sebelumnya Anjlok 1,88 Persen
Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.031,28.
Sepanjang perdagangan tersebut, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi 6.179,09 sebelum tekanan jual menyeretnya turun hingga akhir sesi.
Pelemahan terutama terjadi pada saham-saham sektor industri, energi, dan infrastruktur.
Nilai transaksi perdagangan Kamis mencapai sekitar Rp12,72 triliun dengan volume sebanyak 60,82 miliar saham.
Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap indeks sudah terbentuk sebelum perdagangan Jumat dimulai.
Prediksi IHSG Hari Ini, Level 6.000 Jadi Perhatian
Sejumlah perusahaan sekuritas memperkirakan IHSG masih menghadapi risiko koreksi lanjutan pada perdagangan akhir pekan.
Phintraco Sekuritas menilai level 6.000 menjadi area penting yang perlu dicermati investor.
Apabila IHSG mampu bertahan di atas level tersebut dan kembali menguat, indeks berpeluang membentuk pola pembalikan arah yang dikenal sebagai double bottom.
Sebaliknya, penutupan di bawah 6.000 berpotensi membawa IHSG menguji kisaran 5.800–5.900.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih memiliki peluang menguat dalam jangka pendek menuju area 6.227–6.231.
Namun, risiko koreksi tetap terbuka apabila indeks menembus level 5.973. Dalam skenario tersebut, IHSG berpotensi melemah menuju kisaran 5.850–5.911.
MNC Sekuritas menetapkan area penopang atau support pada level 6.018 dan 5.973, sedangkan area hambatan kenaikan atau resistance berada di kisaran 6.297 hingga 6.376.
Adapun CGS International Sekuritas memproyeksikan support IHSG pada level 5.930 dan 5.830, dengan resistance di 6.130 dan 6.230.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah pergerakan IHSG masih bergantung pada perkembangan tekanan jual dan kemampuan indeks bertahan di area penopang.
Menjelang akhir perdagangan pekan ini, investor diperkirakan tetap mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, aktivitas transaksi asing, harga komoditas global, serta sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dengan posisi IHSG yang sempat turun ke area 6.000 pada awal perdagangan Jumat, kelanjutan pergerakan indeks sepanjang sesi pertama dan kedua menjadi perhatian pasar sebelum hasil penutupan dapat dipastikan.
