Menperin Muhammad Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali, Sabtu (24/10/2026). Foto: KemenperinRealisasi investasi sektor elektronika dan telematika (IET) terus meningkat, dari Rp 4,13 triliun pada 2022 menjadi Rp 10,94 triliun pada 2025. Di tengah perkembangan tersebut, industri animasi memiliki potensi besar untuk membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing industri nasional.Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, industri kreatif digital, khususnya animasi, memiliki karakteristik padat karya meskipun berbasis teknologi tinggi. Sebab, proses produksinya tetap membutuhkan keterlibatan sumber daya manusia (SDM) dalam berbagai tahapan.“Potensinya besar sekali sekarang, apalagi di era digital, era AI, dan animasi yang terus berkembang. Saya agak surprise, ternyata teknologi digital itu tidak semata-mata padat modal dan padat teknologi, tetapi juga padat karya. Termasuk animasi, ternyata menyerap tenaga kerja yang banyak,” kata Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali, dalam keterangannya, Minggu (25/10). Menurut Sarmuji, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) tidak menghilangkan kebutuhan terhadap keterampilan dan kreativitas manusia dalam industri animasi.“Detail-detailnya tetap harus dikerjakan oleh manusia, khususnya untuk animasi. Tentu ini peluang yang sangat besar untuk penyerapan tenaga kerja kita. Kita berharap industri harus menjadi ladang bagi penyerapan tenaga kerja secara maksimal," katanya. Seorang bapak menggendong anakanya melihat balon raksasa Don 'JUMBO' saat berwisata di Kota Tua, Jakarta, Minggu (18/5/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanSarmuji optimistis Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri kreatif digital dunia. Untuk itu, pengembangan talenta nasional, penguatan ekosistem industri, serta peningkatan keterampilan generasi muda perlu terus dilakukan agar mampu bersaing di tingkat internasional.Salah satu upaya pengembangan talenta tersebut dilakukan melalui BDI Denpasar. Sarmuji mengapresiasi kontribusi lembaga pelatihan di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) itu dalam mencetak tenaga kerja yang dapat terlibat dalam produksi karya nasional.“Tadi sudah terbukti, film Jumbo ternyata ada tiga orang yang terlibat dalam produksinya merupakan lulusan BDI Denpasar. Tentu kalau ini dikembangkan, akan menjadi potensi yang sangat besar bagi Indonesia,” kata Sarmuji.Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja MeningkatMenperin Muhammad Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali, Sabtu (24/10/2026). Foto: KemenperinSelain investasi yang meningkat, realisasi investasi sektor elektronika dan telematika sepanjang semester I 2026 tercatat mencapai Rp 6,4 triliun. Dari sisi kinerja industri, pada kuartal II 2026, kelompok industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 8,04 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan industri pengolahan nonmigas yang mencapai 5,32 persen.Penyerapan tenaga kerja sektor elektronika dan telematika juga meningkat menjadi 122.872 orang pada Mei 2026, dari 114.639 orang pada Februari 2026.Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, mengatakan BDI Denpasar memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja kompeten untuk memenuhi kebutuhan industri kreatif digital.Menurut Adie, BDI Denpasar menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi, peningkatan dan pembaruan keterampilan, sertifikasi kompetensi, hingga inkubasi bisnis bagi calon wirausaha industri baru.“Pengembangan kompetensi di BDI Denpasar diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri, khususnya bidang animasi, konten digital, pengembangan aplikasi, dan gim. Selain pelatihan, BDI Denpasar juga menyediakan layanan inkubasi bisnis untuk membantu calon wirausaha industri mempersiapkan dan mengembangkan usahanya,” ujar Adie.Kepala BDI Denpasar Arga Mahendra menambahkan, lembaganya terus memperkuat pelatihan berbasis kompetensi, pengembangan kewirausahaan, serta pendampingan industri.Yorie Kumalasari, Visual Effect Artist asal Indonesia yang terlibat dalam film animasi Kung Fu Panda. Foto: Dok. IstimewaSepanjang 2015 hingga Oktober 2026, BDI Denpasar telah menyelenggarakan berbagai pelatihan berbasis kompetensi yang diikuti 16.113 peserta. Program tersebut mencakup animasi 2D, animasi 3D, pemrograman web, pemasaran melalui media sosial, pemasaran digital, barista, hingga teknologi Industrial Internet of Things (IIoT).Khusus sepanjang 2026 hingga Oktober, BDI Denpasar telah melaksanakan 13 kegiatan pelatihan dan lokakarya dengan total 304 peserta. Kegiatan tersebut mencakup berbagai bidang kompetensi, mulai dari industri kreatif digital, barista, hingga pengolahan pangan.“Sepanjang tahun 2026 hingga Oktober, BDI Denpasar telah melaksanakan 13 kegiatan pelatihan dan lokakarya dengan jumlah peserta mencapai 304 orang. Kegiatan tersebut mencakup berbagai bidang kompetensi, mulai dari industri kreatif digital, barista, hingga pengolahan pangan,” jelas Arga.
(Penulis Jurnalis: kumparanBISNIS | Diterbitkan via kumparan.com)
