Nasional

Kebutuhan Air Data Center Batam Bisa Tembus Puluhan Juta Liter per Hari

•
Kebutuhan Air Data Center Batam Bisa Tembus Puluhan Juta Liter per Hari - Infolitik
Pertumbuhan industri data center di Batam membawa kebutuhan air dalam jumlah besar. Data yang dihimpun Batamnews menunjukkan kebutuhan air untuk sejumlah pusat data dapat mencap...
Pertumbuhan industri data center di Batam membawa kebutuhan air dalam jumlah besar. Data yang dihimpun Batamnews menunjukkan kebutuhan air untuk sejumlah pusat data dapat mencapai ratusan liter per detik ketika fasilitas beroperasi penuh.

Salah satu yang terbesar adalah proyek EGS AI Data Centre di Teluk Mata Ikan, Nongsa. Berdasarkan proyeksi kebutuhan operasional yang diperoleh Batamnews, kebutuhan air proyek tersebut diperkirakan mencapai 311 liter per detik pada 2028.

Jika laju 311 liter per detik berlangsung selama 24 jam, volumenya setara sekitar 26,87 juta liter air per hari. Hitungannya adalah 311 liter dikalikan 86.400 detik dalam satu hari.

Namun angka 26,87 juta liter tersebut merupakan konversi dari kapasitas aliran 311 liter per detik, bukan berarti konsumsi aktual fasilitas pasti sebesar itu setiap hari. Pemakaian riil tetap bergantung pada sistem pendinginan, pola operasi, teknologi daur ulang air serta apakah kapasitas tersebut digunakan secara penuh.

Kebutuhan besar juga muncul di kawasan Nongsa Digital Park (NDP). Berdasarkan data yang diperoleh Batamnews, kebutuhan air di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai 235 liter per detik pada 2027 dan meningkat hingga 404 liter per detik pada 2032.

Jika 404 liter per detik dikonversikan sebagai aliran penuh selama 24 jam, volumenya setara sekitar 34,9 juta liter per hari.

Data lain yang dipublikasikan Katadata dengan mengutip BP Batam menyebut sembilan data center yang direncanakan beroperasi di Nongsa pada 2032 diperkirakan membutuhkan sekitar 29 juta liter air per hari. Ditambah kebutuhan fasilitas NeutraDC-Nxera sekitar 3 juta liter per hari, total kebutuhan 10 data center diperkirakan mencapai sekitar 32 juta liter air per hari, atau sekitar 8,4 persen dari total suplai air Batam saat ini. 

Bergantung pada Waduk

Besarnya kebutuhan air menjadi perhatian karena pasokan air bersih Batam masih sangat bergantung pada waduk.

BP Batam pada Agustus 2026 menyebut rendahnya curah hujan menyebabkan volume Waduk Nongsa turun dan berdampak pada kapasitas produksi IPAM Nongsa. Untuk menjaga distribusi, BP Batam mengoptimalkan interkoneksi dengan sumber lain. 

BP Batam juga menegaskan Nongsa Digital Park tidak bergantung langsung pada Waduk Nongsa. Pasokan utama NDP berasal dari jaringan Waduk Duriangkang, sementara Waduk Nongsa berfungsi sebagai sumber pendukung. 

Di sisi lain, pertumbuhan kebutuhan air Batam diperkirakan terus meningkat, bukan hanya akibat data center tetapi juga pertumbuhan penduduk, kawasan hunian dan industri.

Pada 21 September 2026, BP Batam menyebut kebutuhan air Batam diproyeksikan mencapai 7.149 liter per detik pada 2045. Untuk mengantisipasinya, BP Batam menyiapkan sumber air alternatif seperti Sea Water Reverse Osmosis atau SWRO, air daur ulang, embung, stormwater, hingga opsi waduk laut. 

Dalam rencana jangka panjang tersebut, BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 liter per detik, air daur ulang 500 liter per detik serta embung dan stormwater sebesar 500 liter per detik. 

Investasi Data Center Terus Bertambah

Batam sendiri sedang menjadi salah satu tujuan utama investasi data center di Indonesia. Salah satu proyek besar adalah EGS AI Data Centre yang dikembangkan di Teluk Mata Ikan, Nongsa. BP Batam menyebut proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar USD5 miliar atau Rp88 triliun di kawasan seluas sekitar 30 hektare. 

Sementara itu, hingga pertengahan 2026 nilai investasi industri data center di Batam telah menembus lebih dari Rp120 triliun dari sembilan proyek pusat data. 

Pertumbuhan itu membuat kebutuhan air menjadi salah satu persoalan penting yang harus disiapkan sejak awal.

Sebab berbeda dengan industri biasa, pusat data membutuhkan sistem pendinginan agar ribuan server dapat bekerja terus-menerus. Penggunaan air sangat bergantung pada teknologi yang digunakan. Beberapa fasilitas memilih pendinginan udara atau sistem sirkulasi tertutup untuk mengurangi konsumsi air.

Karena itu, angka kebutuhan ratusan liter per detik tidak bisa langsung dianggap sebagai jumlah air yang pasti habis setiap hari.

Namun skalanya menunjukkan bahwa data center akan menjadi salah satu pengguna air besar di Batam dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan kondisi Batam yang masih bergantung pada waduk tadah hujan, tantangannya bukan hanya memastikan air tersedia untuk industri, tetapi juga menjaga agar pertumbuhan data center tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.

Pertanyaan ke depan bukan lagi apakah Batam membutuhkan tambahan sumber air, tetapi seberapa cepat sumber air baru harus tersedia sebelum seluruh data center tersebut beroperasi penuh.

Infolitik