Penanganan drainase dan sungai di Desa Klambir, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Foto: Satgas PRRKenangan buruk tentang bencana akhir tahun 2025 masih terekam jelas di benak warga Desa Klambir, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Curah hujan tinggi selama berhari-hari saat itu membuat pemukiman warga terendam banjir dahsyat.Namun kini, ingatan kelabu itu mulai berganti menjadi harapan. Di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, pemulihan infrastruktur dasar terus gencar dilakukan dengan tujuan mencegah banjir terulang.Irianto (52), warga Dusun V Desa Klambir, mengingat peristiwa meluapnya air pada Desember 2025 lalu."Di 2025 itu, di bulan 12 (Desember), banjir memang luar biasa. Hampir berapa persen Desa Klambir ini banjir. Dusun V dan Dusun III paling besar banjirnya. Mengakibatkan rumah banyak yang rusak karena terendam," kenangnya.Rumah Irianto sempat tergenang air hingga seminggu lamanya dengan ketinggian sekitar 40 cm. Sementara di titik yang lebih rendah, debit air mencapai satu meter. Banjir yang terjadi di malam hari usai hujan deras tiga hari berturut-turut tersebut merusak perlengkapan rumah tangga seperti peralatan kayu dan kasur.Senada dengan Irianto, Agus Purnomo (40), warga Jalan Koramil, Dusun V, Desa Klambir, juga mengalami dampak serupa. Rumahnya terendam air setinggi lutut (sekitar 60 cm) selama kurang lebih seminggu. Aktivitas warga lumpuh total.Menurut Agus, sebelum adanya perbaikan, saluran pembuangan di wilayahnya hanya berupa parit kecil alami dari tanah dan batu bata. Itu pun sudah lama tersumbat sedimen serta sampah.Kini, setelah saluran drainase diperbaiki dan dibangun secara permanen menggunakan beton, perubahan besar dirasakan langsung oleh masyarakat."Nah, setelah ini diperbaiki kayaknya kemarin ada curah hujan tinggi. Kayaknya airnya mengalir bagus. Artinya, sudah gak banjir habis hujan," kata Irianto bersyukur."Lumayan lah, kalau udah dibuat kayak gini, sudah gak banjir lah. Setelah dibuat aliran ini lumayan lah gak terlalu banjir," ujar Agus Purnomo.Proyek pembuatan saluran drainase ini berlokasi persis di Jalan Koramil–Jalan Titi Payung, Desa Klambir, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Pembuatan drainase berada di sisi kanan jalan jika mengarah dari Jalan Koramil menuju Jalan Titi Payung.Sektor infrastruktur air dan drainase ini memiliki urgensi pemulihan sangat tinggi mengingat wilayah Hamparan Perak berada di hilir dan menjadi muara bagi aliran sungai dari berbagai hulu sebelum dibuang ke laut.Urgensi rehab rekon saluran ini didukung oleh data dampak bencana 2025 di Kecamatan Hamparan Perak. Tercatat 13 ribu lebih rumah, 17 ribu KK, dan 53 ribu penduduk terdampak banjir.Pembangunan drainase trapesium dengan ukuran lebar atas 110 cm, tengah 80 cm, bawah 60 cm, serta kedalaman 70 cm ini dirancang untuk mengalirkan air menuju jalan nasional dan dibuang ke Sungai Hamparan Perak (Sungai Awak).Drainase dibangun sepanjang 773 meter (rencana hingga kurleb 1 km) menggunakan anggaran sebesar Rp 1.034.000.000 yang bersumber dari Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan.TKD Tambahan adalah dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah di luar pagu alokasi reguler. Dana ini dipakai untuk mendukung pemulihan wilayah yang terdampak bencana alam, seperti rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dasar, drainase, irigasi, serta fasilitas publik.Pelaksanaan pengerjaan dimulai sejak 6 Juli 2026 dengan target selesai pada 2 November 2026 (selama 120 hari kalender). Saat ditinjau pada Rabu (14/10/2026), progres pekerjaan telah mencapai 70 persen, yang melingkupi pembersihan sedimen, pengangkatan sampah, hingga penyiapan bekisting kayu untuk betonisasi.Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, berulang kali menekankan pentingnya penanganan aliran sungai. Apalagi dewasa ini curah hujan di beberapa wilayah di Sumatra cukup tinggi. Akibatnya sering terjadi banjir susulan.“Begitu sedimen di sungai tinggi, hujan turun, banjir meluber. Jadi kita terus bekerja. Tujuannya bagaimana kita menghadapi banjir susulan, membershihkan sungai yang terkena sedimen,” kata Tito Karnavian, dalam rapat koordinasi di Posko Nasional Satgas PRR, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.).Hal yang sama juga ditekankan oleh Menko PMK, Sugiono, yang juga ketua dewan pengarah Satgas PRR. “Satu hal yang tadi saya lihat, bahwa bagian dari mitigasi yaitu mengatasi pendangkaan sungai. Upaya mitigasi ini harus dilakukan. Yang menjadi prioritas kita normalisasi aliran sungai yang mengalami sedimentasi secepat-cepatnya dalam keterbatasan waktu dan anggaran yang kita miliki. Dan ini sudah mau masuk lagi musim hujan,” kata Sugiono.Berdasarkan data Poskonas Satgas PRR per Rabu (14/10/2026), progres capaian penanganan sungai dan drainase di berbagai tingkatan wilayah adalah sebagai berikut:• Tingkat Kabupaten (Deli Serdang): Hasil kolaborasi Satgas PRR dan pemda mencatat 7 sungai telah ditangani, dengan rincian 2 sungai dikerjakan oleh pemerintah pusat dan 5 sungai digarap oleh pemda setempat.• Tingkat Provinsi (Sumatera Utara): Total 48 proyek penanganan sungai telah dikerjakan, terdiri dari 23 sungai yang digarap pemerintah pusat dan 25 sungai yang dijalankan oleh pemda.• Tingkat Nasional/Skala Pulau (Aceh, Sumut, Sumbar): Program normalisasi sungai mencakup 115 lokasi penanganan, di mana 34 sungai telah selesai ditangani dan 91 lokasi masih dalam proses pengerjaan. Untuk normalisasi muara, dari 38 lokasi sasaran, 9 lokasi telah selesai dan 31 lokasi masih dalam tahap pengerjaan.
(Penulis Jurnalis: kumparanNEWS | Diterbitkan via kumparan.com)
