Ilustrasi serangan siber. Foto: ShutterstockGelombang serangan siber di Jepang membuat sejumlah perusahaan besar mulai membayar kompensasi kepada pengguna. Serangan tersebut mengganggu layanan internet dan memunculkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi negara itu, sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (26/10).GMO Internet Group, penyedia layanan keuangan online terkemuka di Jepang, akan mengganti kerugian nasabah akibat akses tidak sah pada layanan perdagangan valuta asing (forex) miliknya. Selain itu, seluruh nasabah akan menerima 5.000 yen (sekitar Rp 576 ribu) sebagai tanda itikad baik.Kebijakan tersebut disampaikan CEO GMO, Masatoshi Kumagai, melalui unggahan blog pada Minggu (25/10). GMO juga menyediakan layanan pengganti gratis selama enam bulan bagi pelanggan. Perusahaan belum dapat menghitung dampak kompensasi terhadap laba.GMO menyebut pihak yang diduga menjadi dalang serangan meminta sejumlah uang dan mengancam membocorkan data perusahaan serta pelanggan jika tuntutan tidak dipenuhi. Perusahaan menolak membayar dan menangani kasus ini bersama kepolisian dan otoritas terkait. GMO tidak menyebut adanya kaitan dengan celah keamanan pada PHP.Ilustrasi serangan siber. Foto: Shutterstock"Internet itu sendiri sekarang mulai rusak. Internet kian beralih fungsi menjadi alat yang digunakan pihak jahat untuk mengancam dan merampok masyarakat," kata Kumagai.Kumagai mengakui peretas etis (white-hat hacker) yang bekerja untuk GMO sebenarnya sudah menemukan masalah keamanan. Namun, menurutnya, respons yang dilakukan belum cukup mendalam dan cepat.Akibat insiden ini, saham GMO anjlok hampir 16 persen ke level terendah dalam empat bulan. Pada saat yang sama, indeks acuan Tokyo naik 0,2 persen. Nilai pasar GMO tercatat 2,6 miliar dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (24/10).Kumagai mendesak pemerintah Jepang menerapkan langkah pertahanan siber (cyberdefence) dan mengajak sektor publik serta swasta bekerja sama melindungi negaranya. Park24, operator layanan berbagi mobil (car sharing) Times, juga akan membayar 3.000 yen (sekitar Rp 350 ribu) kepada pelanggan yang terdampak kebocoran data pribadi bulan lalu. Pengumuman itu disampaikan pada Jumat (24/10).Perusahaan tidak lagi menyimpan gambar dokumen identitas setelah verifikasi pendaftaran selesai. Park24 memperkirakan akan mencatat kerugian luar biasa sebesar 5,5 miliar yen untuk penanganan serangan dan pembayaran kompensasi.
(Penulis Jurnalis: kumparanTEKNO | Diterbitkan via kumparan.com)
